dalam sunyinya malam, seorang gadis bernama rhani tengah menunggu seseorang yang sangat dia nantikan kehadirannya. dia hanya termenung sepi yang menggelayuti dirinya. menit demi menit ia lalui dengan bersabar. demi menanti saat bertemu dengan sang kasih, dia rela terbangun dari tidur lelapnya. ia sangat meyakini akan datangnya sang pujangga.
di tengah kelamnya pekat hitam karena hari yang semakin larut, ia tersadar bahwa malam semakin menjadi. jarum di jamnya telah menunjuk ke angka 3. astaga! sudah jam 3 pagi. dia semakin merasa gelisah menunggu datangnya sang kasih, dia takut terjadi hal yang tidak di inginkan pada lelaki itu. lelaki yang sudah membuatnya merasakan indahnya kasih dan sayang yang tiada taranya, serta cinta. cinta yang membuatnya tidak ingin merasakan hal lain selain cinta. dia semakin gugup dan takut.
namun tanpa ia sadari, dari balik punggungnya telah menunggu seorang yang dia nanti. ia datang!! lelaki itu. lelaki yang membuatnya merasakan cinta, kasih dan sayang. lelaki yang sudah mengajarkan jutaan hal terindah dalam hidupnya. lelaki yang sudah menjadi bintang dalam hidupnya. dia bahagia, senang bahkan tak dapat lagi di ucap hanya dengan sebuah kalimat indah yang mempesona. di peluknya lelaki tampan itu. lalu dia mengurai air mata di dalam peluk sang kasih. hanya satu kata yang keluar dari bibir sanga gadis. rindu. sang pujangga hanya tersenyum lirih dan kembali memeluknya dengan hangat tubuhnya.
saat pelukan itu terlepas, sang gadis ternyata baru menyadari bahwa lelaki itu bukan sang pujangga hatinya. dia lelaki lain. dia sahabatnya, Varo. dia marah, dia meledak, dia tumpahkan semua kekesalannya pada sahabatnya itu. Vharo hanya bisa diam, tak dapat berbicara apapun. sama sekali. setelah emosi Rhani mereda, Vharo mulai membuka bibirnya. dan berkata, "cukup semuanya.. lupakan dia.. jangan pernah mengingatnya lagi.. dia sudah pergi jauh.. dan gak akan pernah kembali.. sadarlah rhani!!". Rhani hanya terdiam, kembali temenung. lalu menitikkan air matanya, lagi entah untuk yang keberapa kalinya setelah kepergian sang pujangganya, Nino. lelaki yang telah mengajarkan segalanya padanya. indah nya hidup dan cinta kasih.

dalam isak tangisnya, dia kini hanya berkata "aku hanya merindukannya, tak lebih. aku hanya rindu, sangat rindu. rindu yang membuat dadaku terasa sesak." dan Vharo berkata "ingatlah, dia hanya bagian dari masa lalu mu. lupakan dan lepaskan dia. ikhlaskan dia pergi. maka dia akan bahagia di sana." dan kemudian setelahnya, Rhani memeluk sahabatnya sambil tersenyum tipis sambil berkata, "tidak mudah melepaskannya dari otakku. dan aku juga tak akan pernah melakukannya. tapi aku akan mengikhlaskannya, dia dan kepergiannya yang telah jauh meninggalkanku. karena aku, sangat mencintainya. selalu."