Senin, 26 Desember 2011

Experience

     Awal perjalanan yang indah dan selalu berujung menyakitkan, sampai pada saatnya mendapatkan yang baru lantas melanjutkan kembali hidup. Apakah berarti MELUPAKAN yang terdahulu ? Sama sekali tidak. Seperti yang kita semua ketahui, segalanya dalam hidup, baik rezeki, maut dan kehidupan ada di tangan Tuhan, semua berputar layaknya roda dan semua pasti pernah merasakan pahit manisnya kehidupan dalam segala aspek, baik materi ataupun hubungan. Yah dan inilah sedikit cerita tentang kisah terindah yang ga akan pernah saya lupakan.
     Semua berawal dari facebook. Yaa, sudah bertahun tahun saya hidup dalam dunia maya yang tak pernah jelas asal usulnya ini. Suatu hari di hari yang sangat biasa, saya sedang online seperti biasa, membuat status lalu chattingan. Ketika saya membuat status, tiba tiba saja ada seorang lelaki yang chat saya dan mulai berulah sesuatu yang membuat saya kesal. Yang saat itu ada dipikiran saya, "ini orang banyak tingkah, banyak tanya dan sangat sok tau". Ya, itulah permulaan perkenalan kami. Dia memulai segala sesuatunya dengan sangat menyenangkan dan selalu membuat saya santai serta nyaman saat mengobrol dengannya. Berhari-hari kami chattingan dan akhirnya mulai bertukar nomor hp. Awal smsan lalu mulai berani menelvon. Ternyata terasa lebih nyaman lagi ketika saya mendengarkan suara dan bercanda langsung dengan irama tawanya yang indah. Semua terasa baik, sangat baik. Berminggu kami kenal, saling curhat dan bertukar pikiran. Jalan pikir kami sama, begitu juga dengan selera kami. Kami begitu serasi dalam segala hal. 
Pada suatu malam saat saya dan dia telvonan, saat itu saya sangat mengantuk dan mulai memejamkan mata, sedangkan dia masih saja asyik sendiri bercerita tentang kehidupan dan hiruk pikuk kisahnya. Dia memanggil saya, saya memang mendengar tapi karena sudah tidak sanggup untuk terjaga saya hanya diam dan membiarkannya mencari cari saya. Bukannya mematikan telvon dia justru kembali bercerita namun kali ini bukan tentang kisahnya di kota seberang sana, tapi sesuatu yang lain, sesuatu yang menjadi awal kejutan kisah kami. Ya, dia mengutarakan perasaannya. Kala itu yang dia tau saya sudah tidur. Tapi karena saya mendengar dia masih berbicara, saya mencoba mendengarnya samar dibalik rasa kantuk yang luar biasa. Satu demi satu penjelasan dan kelebihan yang saya miliki di ungkapkannya. Senang, bahagia, dan jelas kaget luar biasa. Dia bukan hanya mengutarakan perasaannya sebagai sekedar suka atau simpati saja, tapi lebih dari itu. Dia sangat menyayangi saya, satu hal yang tak akan pernah saya lupakan. Tapi bagaimana mungkin. Saya bingung, sangat kebingungan. Karena dari awal kami berkenalan dia tidak menampakkan sedikitpun sinyal bahwa dia menyukai bahkan menyayangi saya. Yang saya tau dari awal kami kenal hanya sekedar teman dan akan seperti itu seterusnya. Tapi dia berbeda, dia sangat piawai memendam sesuatu. Saat itu saya hanya tertawa kecil agar dia tidak menyadari bahwa saya sudah mendengar perasaannya. Dan pada keesokan harinya, kami telvonan lagi. Ya, dia menganggap semua tidak pernah terjadi, karena yang dia tau saya sudah tidur malam itu. Tapi akhirnya saya memberanikan diri untuk menanyakan hal ini padanya. Dia kaget setengah mati, malu gak ketulungan, belum lagi salah tingkah. Saya hanya tertawa melihat tingkah lucunya. Meski begitu, pada saat itu pula lah kami memulai kisah kami berdua. 
     Semua berjalan sangat baik, kami harmonis, kami romantis dan penuh cinta. Setiap hari kami lalui dengan saling mengisi satu sama lain. Indah, yah sangat indah. Satu bulan kami melakukan hubungan jarak jauh, dia di Aceh dan saya di Medan. Tidak terlalu jauh untuk ukuran kotanya, hanya seberang provinsi, tapi lain halnya kalau anda berpacaran dengan seseorang. Dan alhamdulillah kami tidak terlalu mempermasalahkan hal itu. Karena dia janji kalau dia pasti akan mendatangi saya, cepat atau lambat. Kemudian hari bahagia itu tiba. Sebulan setengah setelah kami jadian atau tepatnya pada awal bulan Mei dia ke Medan, dia ke kotaku, dia ke rumah tinggalku dan berdiri tepat di hadapanku. Kau tau rasanya ? Tak terbayangkan dan sangat tidak bisa di ungkapkan. Lelaki yang sangat kucintai, kubanggakan dan kuhormati ini sudah berdiri tepat di hadapanku. Orang yang ku kagumi hanya lewat gambar dua dimensi sekarang berada di depanku. Kaget, bahagia dan sangat sempurna. Dua minggu hari.harinya setiap hati di isi dengan waktu bersamaku. Kami tak ingin melewatkan sedetikpun kebersamaan kami. Sangat banyak tempat yang kami datangi. Kami sangat menyukai lapangan hijau dan luas. Lapangan Merdeka Medan, disanalah tempat favorit kami. Seolah kami penemu tempat itu, berhari hari kami selalu singgah hanya sekedar duduk berdua menatap langit malam di depan Tugu besar di Lapangan itu. Masih sangat segar di ingatanku, langit malam itu sangat cerah, tidak ada mendung, justru terhampar ratusan bintang yang menyempurnakan malam indah kami. Sepanjang malam kami duduk berdua, berbagi cerita satu sama lain. Kali ini bukan lewat barang eelektronik, namun tatap muka secara langsung. Tak berhenti ku pegang tangannya sambil bercerita dan ku bersandar pada bahunya. Hangat sekali saat itu, tak ada sandaran yang sehangat pundaknya. Berkali.kali dia mengelus kepalaku dengan penuh kasih, sayang dan cinta yang sangat penuh untukku. Sempurna, malam pertama kami yang sangat sempurna, malam pertama yang kami lewati di tengah bintang dan hamparan tanah hijau serta kerlipan sinar lampu kota yang sangat indah. Kami tertawa, menangis dan saling menasihati disana. Kami belajar banyak hal, kehidupan, keluarga, cinta kami, dan masa depan kami. Mungkin terlalu dini untuk membahas hal itu, tapi entah kenapa aku sangat yakin padanya. Pada janjinya dan rencana masa depan kami. Aku sangat meyakini bahwa dialah calon pendamping hidupku. Kami punya banyak kesamaan dalam banyak hal, dan satu hal yang paling penting, aku sangat mencintainya lebih dari apapun di dunia ini. Aku tidak punya seseorang yang ku perhatikan lagi, kedua orang tua yang sangat ku cintai sudah meninggal sejak aku sekolah. Dan ketika dia datang, semua menjadi sangat baik, padanya ku curahkan perhatian dan kasih sayang yang seharusnya kuberikan pada orang tua ku. Ketika dia muncul, ku pikir dialah satu satunya yang harus ku perjuangkan. Di malam terakhir kami bersama, dia memberikan kado pertamanya padaku. Sebuah kalung berbentuk hati yang terbelah dua. Masing.masing dari kami memiliki kepingannya. Dan dalam setiap kepingan bertuliskan nama panggilan sayang kami, "ENENG dan AKANG". Kami menyebut kalung itu, heartpieces. Aku sampai nyaris menangis ketika dia memberikan itu, malam itu juga salah satu malam yang sangat sempurna menurutku. Menjelang tengah malam, kami duduk berdua di taman bermain, dan dia berdiri di hadapanku untuk memberikan kejutan pertamanya padaku. Ku tatap matanya dan di berikannya semua kalimat sanjungan terindah serta kalung sempurna itu. Aku menangis dan memeluknya. Ya, keyakinan ku bahwa memang dia pendampingku semakin kuat dan keyakinanku bahwa aku serius mencintainya juga makin besar. Dua minggu terindah telah kami lewati bersama. Dia dan aku, hanya kami berdua dengan segudang pengalaman dan cerita kami. Ku biarkan dia pergi meninggalkanku jelas untuk kembali lagi. Aku yakin dia akan kembali dan bersamaku lagi mengulang hari.hari indah kami. Aku yakin itu. 
     Sepulangnya dia ke Aceh, bencana beruntun pun datang pada hubungan kami. Mulai dari saya yang selingkuh, dia yang mulai tak menaruh kepercayaan pada saya. Ya, awal bencana ini semua karena kesalahan saya. Kalau saja saya tidak mencoba bermain pada lelaki lain, saya yakin tidak akan pernah terjadi hal ini. Sebenarnya pada saat itu hubungan kami memang sedang sangat renggang. Entahlah, entah setan apa yang memasuki saya sampai saya dekat dengan pria lain. Tapi jujur sampai sekarang saya sangat menyesali petaka buruk itu. Meski mungkin penuh kemarahan akhirnya dia mau memaafkan saya dan kami melanjutkan hubungan kami. Tapi sayangnya sudah tidak seharmonis dulu, tidak seromantis dulu, dan tidak sepenuh cinta kasih seperti dulu. Sedikit saja saya melakukan kesalahan dia langsung menjudge ini itu. Traumatik, yah itulah yang di alaminya. Tak bertahan lama, bulan Agustus kami putus dan akupun mulai stress. 
     Dan semua kembali terjadi, seorang pria yang sangat baik menghampiriku dan memberikan pundaknya untukku menangis. Kagetnya, dia ternyata mencintaiku, sejak awal kami berkenalan. Ya, dia sangat mencintaiku. Dia baik, pengertian dan sangat tau semuanya tentang baik buruknya tingkah laku ku. Dia tau caranya menghadapi aku yang egois, dia tau cara menenangkan aku yang labil, dan dia sangat tau caranya membuatku bahagia. Aku bahagia bersamanya, tapi entah kenapa itu semua kosong. Semua yang kurasakan tanpa cinta. Hanya sayang, itupun sayang seperti saudara. Dari awal kami kenal kami menganggap satu sama lain hanya sebatas seperti saudara. Kami sangat dekat dari dulu, sudah setahun lebih kami saling mengenal. Padanya aku slalu mengadu tiap kali aku punya masalah, dan mungkin karena itu pula dia mengerti aku melebihi diriku sendiri. Dia pria yang sangat baik, tapi sayangnya saat kami menjalin hubungan perasaan itu kosong. Aku menganggapnya pacar, tapi hatiku tetap menganggapnya sebagai saudara. Karena itu yang tersugesti dari awal kami saling mengenal. Dan sampai sekarang pun hal itu tidak dapat ku ubah. Bagaimanapun besarnya dia berkorban, sehebat apapun pengertiannya terhadapku, aku tetap menganggapnya saudara. Dan akhirnya setelah sebulan mencoba menemukan perasaan yang jelas kosong itu aku memutuskan hubungan dengannya. Dia jelas tidak terima, tapi setelah kujelaskan duduk perkaranya akhirnya dia pun mau ku putuskan. Berat dan sangat tidak enak hati aku padanya. Tapi daripada ku lanjutkan, dia yang akan lebih sakit lagi. 
     Aku terpaku dan bertanya.tanya pada diriku sendiri, ada apa denganku. Kenapa pada lelaki yang begitu baik aku bisa membuangnya begitu saja. Dan ku temukan jawabannya, aku masih mencintai pria berambut ikal itu. Aku dan dia mulai kembali menjalin komunikasi. Kali ini berbeda, aku jauh lebih keras dari sebelumnya. Aku sudah sangat tidak tahan dengan jutaan kecurigaannya. Aku memutuskan untuk tidak lagi kembali dengannya. Kurasa aku lebih baik sendiri untuk saat itu. Aku berhasil, aku bisa tanpanya, aku bisa melupakannya dan benar.benar mandiri. Ketika dia datang kembali, tak ada sedikitpun perasaanku muncul untuknya. Aku sangat dingin saat berbicara padanya. Aku sendiri tidak tau kenapa aku bisa melakukannya. Saat itu dia sadar kalau dia juga masi sangat mencintaiku. Dia meminta kembali, aku ragu dan pikiranku penuh dengan ketakutan akan kecurigaan dia padaku lagi. Sayangnya hatiku lebih mudah lebur daripada otak dan ketakutanku. Akupun mau untuk kembali dengan beberapa syarat tentunya. Aku tak mau hal serupa terjadi lagi pada hubungan kami. Aku bersedia kembali bukan karena apapun, alasanku hanya satu, sampai kapanpun aku yakin kalau dialah calon pendampingku, bahkan disaat aku sudah bisa tanpanya, aku tetap berpikir demikian. Kegilaan cinta dan kebodohan seorang perempuan dungu. Tapi aku tetap menjalaninya hanya karena alasan sederhana itu. Dugaanku benar, dia mengulang perbuatannya lagi, dia berulah lagi dan kami bertengkar hebat. Putus lagi dan lagi. Aku sudah berkali.kali mengalami hal ini, terlalu terbiasa. Ku ambil jalan santai meski tanpanya. 
     Muncul lagi seorang teman lama yang menembak lagi. Awalnya ingin ku tolak dengan penjelasan, aku belum terlalu mengenal dia yang sekarang. Tapi dia memaksa, dengan alasan waktu pacaran nanti aku bisa lebih mengenalnya. Aku sadar dari awal aku menjalaninya tanpa perasaan. Tapi ketika ku lihat usahanya untukku, akupun simpati. Dan mulai menaruh rasa padanya. Memang aku sempat menyayanginya, tapi itu hanya sebentar. Yang ku takutkan, dia hanya pelarian dari masa laluku. Pria ikal itu menjalin hubungan dengan perempuan yang ku kenal. Makin menjadi amarahku dan makin ku lampiaskan dengan menjalin hubungan bersama lelaki yg menembakku saat itu. Jalan sebulan bersama pria itu, sebuah insiden kecil terjadi dan saat itu juga aku memutuskan hubungan dengannya. 
     Sebenarnya seminggu sebelum aku memutuskan hubungan dengan lelaki itu aku sudah menjalin hubungan lagi dengan Pria ikal yang ku cintai itu, kami berhubungan secara diam.diam selama seminggu. Ku pikir ini gila, bagaimana mungkin aku bisa pacaran dengan orang yang tidak kucintai dan menomorduakan pria yang sangat ku cintai. Tapi mungkin ini karma untuknya karena pernah melakukan hal serupa padaku pada awal kami berpacaran. Ya, awal pacaran dari cerita indah ini, aku adalah selingkuhannya. Aku adalah yang kedua, tapi tetap di nomer satukan olehnya. Meski jadi yang kedua, aku tidak pernah merasa demikian karena ku yakin dia memang serius padaku. Lagi pula dia memperlakukanku dengan sangat baik dan tidak pernah mau mengungkit tentang "pacar asli" nya itu. 
     Akhirnya kami kembali menjalin hubungan. Sebulan terakhir, keharmonisan itu kembali. Tidak ada sedikitpun keraguan muncul dalam hatiku. Setiap hari kumanjakan dia dengan ciuman hangat setiap pagi dan perhatian yang penuh hanya untuknya. Masalah yang sama kembali lagi dan lagi terjadi. Dia mencurigaiku lagi,  tapi caraku menghadapinya kali ini berbeda. Kuturuti semua perkataannya, apa yang dia tidak sukai dariku ku coba lakukan semampuku. Semua pria yang mencoba dekat denganku dia tidak suka. Ku hapus nomer mereka dari pertemanan facebook. Padahal jujur aku dan mereka hanya sebatas teman, dan mereka tau kalau aku sedang berpacaran dengannya. Aku justru sering bercerita tentangnya, betapa aku sangat membanggakannya, betapa aku sangat mencintai sosoknya yang sudah berubah. Dia ku banggakan dihadapan semua orang. Tapi aku heran kenapa dia tak pernah sadar kalau aku sangat bangga pada dirinya, seolah harta karun, ku pamerkan dia pada semua orang di hadapanku. Meski begitu, tetap dia tidak suka jika ada lelaki yang dekat padaku. Aku turuti semua permintaannya. Perlahan aku mulai menutup diri dari orang lain, hanya demi dia yang sangat ku cintai. Aku tak ingin kebaikanku pada orang lain di anggap dengan tanggapan berbeda dan menimbulkan masalah baru pada hubungan kami. Puluhan temanku sudah mulai mengeluh, kenapa aku lebih tertutup dan terkesan menjauh dari mereka. Dengan ribuan kata maaf, aku beralasan jujur pada mereka, "semua demi dia". Tak ada satupun kegiatanku yang tak ku laporkan padanya. Mulai dari membuka mata sampai aku terlelap kulaporkan yang terjadi seharian penuh padaku. Pada sampai suatu ketika selesai dia sidang untuk perkuliahannya, aku hanya sedang stres karena masalah keluarga. Aku mengadu padanya dan sekedar ingin di tenangkan pikiranku. Dan reaksi yang dia berikan justru sebaliknya, dia marah dan mulai mengalihkan topik pembicaraan ke arah lain. Ku coba tenangkan keadaan dengan mengajaknya mengobrol di facebook. Aku tertegun ketika melihat perempuan binal yang di ceritakannya padaku. Darahku mendidih seolah teringat cerita buruk tentangnya dan perempuan itu. Perempuan itu adalah mantannya dan mereka melakukan hal di luar batas yang sangat ku benci. Ketika dia mengakui hal itu jujur aku luar biasa marah, ingin membunuhnya dan perempuan itu, tapi tak terbersit sedikitpun pikiran untuk meninggalkannya. Aku mencintainya dan seharusnya itu jadi alasan terkuat kenapa aku tidak boleh memutuskan hubungan dengannya. Apapun keadaannya, aku harus tetap bertahan dengannya. Alasan kemarahanku sebenarnya bukan wanita itu tapi yang lain. Dia yang dulu bilang malas untuk wall to wall pada orang lain melanggar kata.katanya sendiri. Padahal deminya aku tutup dinding supaya tidak ada lagi yang menggangguku dengan sejuta kecaman yg akan mengganggu hubungan kami. Tapi kenapa dia melanggar omongannya sendiri. Dia berkenalan dengan wanita itu. Yang tadinya sudah reda malah di naikkan lagi dengan kelakuannya. Aku mencoba bertanya baik.baik padanya dan reaksinya ? Marah, dan justru memaki ku. Dia bilang kalau dia jijik pada kata.kataku. Aku hanya menyampaikan yang kurasakan. Aku tau aku punya salah di masa lalu yang selalu jadi pemicu pertengkaran kami. Tapi kenapa itu harus selalu dijadikan dasar pertengkaran kami. Aku sudah mencoba berubah, Tidak ada satu lelakipun yang ku dekati apalagi mencoba dekat denganku, jikapun ada selalu ku tolak dengan berdiam diri di rumah. Aku seperti perempuan bodoh. Bodoh karena aku sangat mencintainya. Dia marah, aku tidak terima dan akhirnya putus. Dan itulah yang terjadi sampai detik ini. Aku tau aku banyak salah padanya, tapi apa stock maafnya sudah habis sampai hati dengan ringannya mengucap putus padaku. Aku selalu mencoba memperbanyak stock sabarku demi dia. SEMUA DEMI DIA. Dengan kondisi seperti ini aku muak, aku lelah, aku buntu. Banyak pertanyaanku untuknya, tapi tetap tak satupun pertanyaanku yang bisa di jawab olehnya. Sama seperti awal pertama kami kenal, dia terlalu piawai menutupi sesuatu. Ntah apa yang di tutupinya. Ku harap tak sama seperti yang ku pikirkan. Pikiran terburuk. Semoga.. 

justSHARE

Tidak ada komentar:

Posting Komentar